Hujan.
Hm, tak tahu harus senang atau benci ketika hujan. Aku tahu, dalam kitab suci ku dijelaskan bahwa hujan itu membawa berkah.
Hm, benci... karena
Setiap kali hujan, aku hanya bisa bersembunyi dibalik selimutku, bukan karena aku takut akan kilatan petir atau suara gemuruh gluduknya. Tapi, untuk melindungi diriku dari udara dingin yang menerjang tubuh ini dengan teganya.
Bingung, kenapa aku bisa mengatakan kata "tega"?
Bagaimana tidak,
Gila saja, setiap kali hujan turun dengan membawa serta hawa dinginnya. Tubuh ini langsung merespon dengan menggigil hebat, kepala ini seperti dilempari berton-ton baja, bahkan paru-paru ini pun sulit bergerak membuatku susah untuk bernafas. Hidupku seperti sedang dipertaruhkan, rasanya bagai berhadapan dengan ambang kematian.
Berlebihan?
Ku pikir tidak, karena memang itu yang aku rasakan tiap kali hujan.
Dulu, memang aku senang tiap kali hujan.
Kenapa?
Karena aku bisa bermain layaknya anak kecil yang sedang berkecipak-cikap digenangan air hujan. Berlari kesana kemari tanpa jelas arah, mengejar teman-teman yang juga ikut bermain hujan. Tak pernah ada sedikit pun yang harus aku takut dari hujan.
Hm, benci atau tidak?
Maka jawaban ku adalah tidak. Aku tidak akan pernah membenci hujan. Hujan tetap berkah bagiku selamanya, walau pun tiap kali hujan tubuh ini akan terasa sakit yang amat sangat.
Hujan tetap sahabatku, walau pun menyakitkan ^^.
Jakarta, 14 Desember 2010 10:09
Hm, tak tahu harus senang atau benci ketika hujan. Aku tahu, dalam kitab suci ku dijelaskan bahwa hujan itu membawa berkah.
Hm, benci... karena
Setiap kali hujan, aku hanya bisa bersembunyi dibalik selimutku, bukan karena aku takut akan kilatan petir atau suara gemuruh gluduknya. Tapi, untuk melindungi diriku dari udara dingin yang menerjang tubuh ini dengan teganya.
Bingung, kenapa aku bisa mengatakan kata "tega"?
Bagaimana tidak,
Gila saja, setiap kali hujan turun dengan membawa serta hawa dinginnya. Tubuh ini langsung merespon dengan menggigil hebat, kepala ini seperti dilempari berton-ton baja, bahkan paru-paru ini pun sulit bergerak membuatku susah untuk bernafas. Hidupku seperti sedang dipertaruhkan, rasanya bagai berhadapan dengan ambang kematian.
Berlebihan?
Ku pikir tidak, karena memang itu yang aku rasakan tiap kali hujan.
Dulu, memang aku senang tiap kali hujan.
Kenapa?
Karena aku bisa bermain layaknya anak kecil yang sedang berkecipak-cikap digenangan air hujan. Berlari kesana kemari tanpa jelas arah, mengejar teman-teman yang juga ikut bermain hujan. Tak pernah ada sedikit pun yang harus aku takut dari hujan.
Hm, benci atau tidak?
Maka jawaban ku adalah tidak. Aku tidak akan pernah membenci hujan. Hujan tetap berkah bagiku selamanya, walau pun tiap kali hujan tubuh ini akan terasa sakit yang amat sangat.
Hujan tetap sahabatku, walau pun menyakitkan ^^.
Jakarta, 14 Desember 2010 10:09
0 komentar:
Posting Komentar